Syiar di BBM

By Dana Anwari. Di bulan Ramadhan tahun ini beredar di BlackBerry Messanger (bbm) syiar Islam tentang prinsip hidup berdasarkan Al Quran. BBM itu bermula dengan pertanyaan tentang “Kenapa Aku Diuji?”, “Kenapa Ujian Seberat Ini?”, “Kenapa Frustasi?”, hingga “Bagaimana Aku Harus Menghadapi?” dan “Kepada Siapa Aku Berharap?”
Bagi pebisnis Islami yang menyadari bahwa hidupnya adalah berbisnis dengan Allah, mudah-mudahan bbm ini dapat menambah ketakwaannya, aamiin. Bagi yang baru menyadari bahwa hidupnya sesungguhnya berbisnis dengan Allah, mudah-mudahan syiar di bawah ini (saya tambahkan beberapa kutipan tafsirnya) memberi manfaat bagi hidup dan kehidupannya untuk menjadi sukses di jalan-Nya, aamiin.

Bismillahirohmanirohim. Semoga bermanfaat utk saudara2ku moslem, aamiin. KENAPA AKU DIUJI ?
QURAN MENJAWAB :
Qs. Al-Ankabut : 2-3 "Apakah manusia itu mengira bhw mereka dibiarkan (saja) mengatakan : 'Kami telah beriman', sedang mereka tdk diuji lagi ? & sesungguhnya kami telah menguji orang2 yg sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang2 yg benar & sesungguhnya Dia mengetahui orang2 yg dusta.


(Pada ayat ini Allah seolah-olah bertanya kepada manusia yang telah mengaku beriman dengan mengucapkan kalimat syahadat bahwa apakah mereka akan dibiarkan begitu saja mengakui keimanan tersebut tanpa lebih dahulu harus diuji? Tidak, malah setiap orang beriman harus diuji lebih dahulu, sehingga dapat diketahui sampai dimanakah mereka sabar dan tahan menerima ujian tersebut. Ujian yang mesti mereka tempuh itu bermacam-macam. Umpamanya perintah berhijrah (meninggalkan kampung halamanan demi untuk menyelamatkan iman dan keyakinan), berjihad di jalan Allah, mengendalikan syahwat, mengerjakan tugas-tugas dalam rangka menegakkan taat kepada Allah, dan bermacam-macam musibah seperti: kehilangan anggota keluarga, hawa panas kering yang menyebabkan tumbuh-tumbuhan mati kekeringan. Semua cobaan itu dimaksudkan untuk menguji siapakah di antara mereka yang sungguh-sungguh beriman dengan ikhlas dan siapa pula yang berjiwa munafik. Begitu pula untuk mengetahui apakah mereka termasuk orang yang kokoh pendiriannya atau orang yang masih bimbang dan ragu-ragu sehingga iman mereka masih rapuh.
Maksud ayat ini dapat pula dilihat dalam ayat lain, yakni: Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan (begitu saja), sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Dan Allah Maha Tahu apa yang kamu kerjakan. (Q.S. At Taubah: 16)
Ringkasnya setiap orang yang mengaku beriman tidak akan mencapai hakikat iman yang sebenarnya sebelum ia menempuh berbagai macam ujian, yakni dengan kewajiban-kewajiban pisik, kewajiban dalam memanfaatkan harta benda, hijrah, jihad di jalan Allah, membayar zakat kepada fakir miskin menolong orang yang sedang mengalami kesusahan, dan untuk menolong orang yang sedang dalam kesulitan.
Orang-orang yang beriman dan berpegang teguh dengan keimanannya akan menghadapi berbagai macam penderitaan dan kesulitan. Mereka sabar dan tabah menahan penderitaan itu. Demikianlah umpamanya Bani Israel yang beriman, setelah diuji oleh Allah dengan berbagai macam siksaan yang dijatuhkan Firaun kepadanya. Umat Nabi Isa a.s. yang beriman juga tidak luput dari azab dan kesengsaraan. Semuanya menjadi contoh dan pelajaran bagi umat beragama Islam ini. Diriwayatkan oleh Bukhari, Abu Daud dan Nasa'i bahwa suatu waktu pernah para sahabat mengadukan penderitaan mereka kepada Rasulullah. Mereka mengatakan bahwa kami menderita berbagai macam siksaan berat dari kaum musyrikin. Apakah kami tidak akan ditolong wahai Rasulullah, dengan cara engkau berdoa untuk keselamatan kami dari siksaan tersebut?. Keluh mereka kepada beliau. Rasulullah hanya menjawab, "Orang-orang sebelum kamu juga mengalami hal seperti ini, bahkan lebih hebat lagi. Seseorang yang karena keimanannya yang membaja kepada Tuhan ia dihukum, dan digali lubang khusus untuknya. Diletakkan gergaji di atas kepalanya.
Kemudian gergaji itu diturunkan perlahan-lahan, sehingga tubuh orang tersebut terbelah dua. Ada pula yang badannya disikat dengan sikat besi runcing yang sudah dipanaskan. Namun mereka tidak mau mundur dari keyakinan agamanya. Demi Allah, agama ini pasti akan kutegakkan jua, sehingga amanah musafir San'a yang sedang dalam perjalanan ke Hadramaut. Mereka tidak takut kecuali hanya kepada Allah, walaupun serigala-serigala liar mengelilingi binatang ternaknya. Tetapi kamu (sabda Rasulullah pula) terlalu tergopoh-gopoh minta pertolongan".
Riwayat lain menyebutkan pula sahabat Abu Said Al Khudry memasuki rumah Rasulullah. Said menjumpai beliau sedang tidak enak badan (demam) Said meletakkan tangannya pada belahan badan beliau. Badan yang mulia dirasakan panas. "Wahai Rasulullah alangkah hebatnya penderitaan ini". "Ya memang begitu. Kita sedang ditimpa cobaan yang lipat ganda datangnya; tetapi pahalanyapun lipat ganda diberikan Allah kepada kita", jawab Rasulullah. "Siapakah orang yang paling berat penderitaan yang dialaminya". tanya Said selanjutnya. "Nabi-nabi sabda beliau". Lalu siapa lagi?". Orang-orang yang saleh", jawab Rasulullah. Keterangan Rasulullah demikian diperkuat oleh ayat yang berbunyi: Dan berapa banyaknya Nabi yang berperang bersama-sama mereka, sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar". (Q.S. Ali Imran: 146)
Dengan beraneka ragam penderitaan itulah Allah mengetahui siapakah yang betul-betul sempurna keimanannya, dan siapa pula yang menutupi kepalsuannya dengan sikap beriman. Allah akan membalasi masing-masing mereka itu dengan apa yang pantas baginya. Ringkasnya Allah melarang manusia berprasangka bahwa ia diciptakan dengan percuma begitu saja. Justru Allah akan menguji masing-masing kita, untuk menentukan siapakah yang paling tinggi derajatnya di sisi Allah. Derajat tersebut tidak mungkin diperoleh, kecuali dengan menempuh ujian yang berat. Hidup ini memang penuh dengan perjuangan, baik kita enggan atau senang menghadapinya. Semakin tinggi tingkat kesabaran, makin tinggi pula kemenangan dan pengajaran yang akan diperoleh. Itulah satu Sunah Tuhan yang berlaku bagi umat dahulu dan sekarang.)

KENAPA AKU TAK MENDAPAT APA YG AKU INGINKAN?
QURAN MENJAWAB :
Qs. Al-Baqarah : 216 "Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu & boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tdk mengetahui


KENAPA UJIAN SEBERAT INI?
QURAN MENJAWAB :
Qs. Al-Baqarah : 286 "Allah tdk membebani seseorang itu melainkan sesuai dgn kesanggupannya.”

(Ayat ini menerangkan bahwa dalam mencapai tujuan hidup itu manusia diberi beban oleh Allah swt. sesuai kesanggupannya, mereka diberi pahala lebih dari yang telah diusahakannya dan mendapat siksa seimbang dengan kejahatan yang telah dilakukannya.
Dengan ayat ini Allah swt. mengatakan bahwa seseorang dbebani hanyalah sesuai dengan kesanggupannya. Agama Islam adalah agama yang tidak memberati manusia dengan beban yang berat dan sukar. Mudah, ringan dan tidak sempit adalah asas pokok dari agama Islam.
Allah berfirman: ....dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.... (Q.S Al Hajj: 78)
Dan firman Allah swt.: Allah hendak memberikan keringanan kepadamu dan manusia dijadikan bersifat lemah. (Q.S An Nisa': 28)
Dan firman-Nya pula: Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.... (Q.S Al Baqarah: 185)
Kemudian Allah swt. menerangkan hasil beban yang telah dibebankan dan dilaksanakan oleh manusia, yaitu amal saleh yang dikerjakan mereka, maka balasannya akan diterima dan dirasakan oleh mereka berupa pahala dan surga. Sebaliknya perbuatan dosa yang dikerjakan oleh manusia, maka hukuman karena mengerjakan perbuatan itu akan dirasakan dan ditanggung pula oleh mereka, yaitu siksa dan azab di neraka.
Ayat ini mendorong manusia agar mengerjakan perbuatan yang baik serta menunaikan kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan oleh agama.
Ayat ini memberi pengertian bahwa perbuatan baik itu adalah perbuatan yang mudah dikerjakan manusia karena sesuai dengan watak dan tabiatnya, sedang perbuatan yang jahat adalah perbuatan yang sukar dikerjakan manusia karena tidak sesuai dengan watak dan tabiatnya.
Manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah yang suci dan telah tertanam dalam hatinya jiwa ketauhidan. Sekalipun manusia oleh Allah swt. diberi persediaan untuk menjadi baik dan persediaan menjadi buruk, tetapi dengan adanya jiwa tauhid yang telah tertanam dalam hatinya sejak ia masih dalam rahim ibunya, maka tabiat ingin mengerjakan kebajikan itu lebih nyata dalam hati manusia dibanding dengan tabiat ingin mengerjakan kejahatan.
Adanya keinginan yang tertanam pada diri seseorang untuk mengerjakan suatu pekerjaan yang baik akan memberikan kemungkinan baginya untuk mendapat jalan yang mudah dalam mengerjakan pekerjaan itu apalagi bila ia berhasil dan dapat menikmati usahanya itu, maka dorongan dan semangat untuk mengerjakan pekerjaan baik yang lain semakin bertambah pada dirinya.
Segala macam pekerjaan jahat adalah pekerjaan yang bertentang dan tidak sesuai dengan tabiat manusia. Mereka melakukan perbuatan jahat pada mulanya adalah karena terpaksa. Bila ia mengerjakan perbuatan jahat, maka timbullah pada dirinya semacam rasa takut, selalu khawatir akan diketahui oleh orang lain. Perasaan ini akan bertambah setiap melakukan kejahatan. Akhirnya timbullah rasa malas, rasa berdosa pada dirinya dan merasa dirinya dibenci oleh orang lain.
Rasulullah saw. : Kebaikan itu adalah budi pekerti yang baik, dan dosa itu adalah apa-apa yang tergores di dalam hatimu sedang engkau tidak suka orang lain mengetahuinya. (HR Muslim)
Kesukaran yang timbul akibat perbuatan jahat ini akan bertambah terasa oleh manusia bila ia telah mulai menerima hukuman langsung atau tidak langsung dari perbuatannya itu.
Dari ayat ini juga dipahami pula bahwa seseorang tidak akan menerima keuntungan atau kerugian disebabkan perbuatan orang lain; mereka tidak akan diazab karena dosa orang lain. Mereka diazab hanyalah karena kejahatan yang mereka lakukan sendiri.
Allah swt. berfirman: (Yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. (Q.S An Najm: 38-39)
Termasuk usaha manusia ialah anaknya yang saleh yang mendoakannya, sedekah jariyah yang dikeluarkannya dan ilmu pengetahuan yang bermanfaat yang diajarkannya.
Rasulullah saw.: Apabila seseorang telah meninggal dunia, putuslah (pahala) amalnya kecuali tiga hal, yaitu anak yang saleh yang mendoakannya, sedekah jariah, dan ilmu yang bermanfaat. (HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)
Setelah Allah swt. menerangkan sifat orang-orang yang beriman dan menyebutkan karunia yang telah dilimpahkan-Nya kepada hamba-hamba-Nya, yaitu tidak membebani hamba dengan yang tidak sanggup mereka kerjakan, maka Allah swt. mengajarkan doa untuk selalu dimohonkan kepada-Nya agar diampuni dari segala dosa karena mengerjakan perbuatan terlarang disebabkan lupa atau tersalah.)

KENAPA FRUSTASI?
QURAN MENJAWAB :
Qs. Al-Imran : 139 "Jgnlah kamu bersikap lemah & jgnlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang2 yg paling tinggi derajatnya, jika kamu orang2 yg beriman”

(Ayat ini menghendaki agar kaum muslimin jangan bersifat lemah dan bersedih hati, meskipun mereka mengalami kekalahan dan penderitaan yang cukup pahit pada perang Uhud, karena kalah atau menang dalam sesuatu peperangan adalah soal biasa yang termasuk dalam ketentuan Allah.
Yang demikian itu hendaklah dijadikan pelajaran. Kaum muslimin dalam peperangan sebenarnya mempunyai mental yang kuat dan semangat yang tinggi jika mereka benar-benar beriman.)

BAGAIMANA AKU HARUS MENGHADAPINYA?
QURAN MENJAWAB :
Qs. Al-Baqarah : 45 "Dan mintalah pertolongan (kpd Allah) dgn jalan sabar & mengerjakan sholat & sesungguhnya sholat itu amatlah berat kecuali kpd orang2 yg khusyuk"
Tiada daya & upaya kecuali atas pertolongan Allah semata.

(Setelah menjelaskan betapa jeleknya keadaan dan sifat-sifat bangsa Yahudi, sehingga akal mereka tidak bermanfaat bagi din mereka dan kitab suci yang ada di tangan mereka pun tidak mendatangkan faedah apapun bagi mereka, maka Allah swt. memberikan bimbingan kepada mereka menuju jalan yang paling baik, yaitu agar mereka menjadikan kesabaran dan salatnya sebagai penolong mereka.
Yang dimaksud dengan "sabar" di sini ialah tabah dalam melaksanakan hal hal berikut:
1.Menahan diri dari kehendak hawa nafsu yang menyimpang dan ajaran agama.
2.Menaati kewajiban-kewajiban yang biasanya dirasakan berat oleh jiwa
3.Menerima dengan sabar, tawakal dan rendah hati semua musibah yang ditakdirkan Allah, setelah berserah diri kepada-Nya dengan sepenuh-penuhnya.
Menjadikan kesabaran itu sebagai penolong, berarti mengikuti perintah perintah Allah swt. dan menjauhkan diri dari larangan-larangan-Nya, dengan cara mengekang syahwat dan hawa nafsu dari semua perbuatan yang terlarang. Juga melakukan salat, itu mencegah kita dari perbuatan-perbuatan yang tidak baik dan dengan salat itu pula kita selalu ingat kepada Allah swt, sehingga hal itu akan menghalangi kita dari perbuatan-perbuatan yang jelek, baik diketahui orang lain, maupun tidak. Salat adalah ibadah yang sangat utama di mana kita dapat bermunajat dengan Allah swt. lima kali setiap hari. Menurut riwayat Imam Ahmad, Rasulullah saw segera melakukan salat, setiap kali beliau menghadapi kesulitan, kalau ditimpa sesuatu musibah. Demikian pula dilakukan oleh para sahabat beliau.
Melakukan salat dirasakan berat dan sukar, kecuali oleh orang-orang yang khusyuk, yaitu orang-orang yang benar-benar beriman dan taat kepada Allah swt. dan melakukan perintah-perintah-Nya dengan ikhlas karena mengharapkan rida-Nya semata-mata serta memelihara diri dari azab-Nya. Bagi mereka ini, mendirikan salat tiadalah dirasakan berat, sebab pada saat-saat tersebut mereka tekun dan tenggelam dalam bermunajat dengan Allah swt. sehingga mereka tidak lagi merasakan dan mengingat sesuatu pun yang lain, berupa kesukaran-kesukaran dan penderitaan yang telah mereka alami sebelumnya. Mengenai hal ini Rasulullah saw telah bersabda:
Ketenangan hatiku adalah dalam salat
Ini disebabkan karena ketekunannya dalam melakukan salat itu merupakan sesuatu yang amat menyenangkan baginya, sedang urusan-urusan lainnya untuk duniawi adalah memayahkan dan melelahkan.
Di samping itu mereka penuh pengharapan menanti-nanti pahala dari Allah swt. atas ibadah tersebut sehingga terasa ringan bagi mereka untuk melalui kesukaran-kesukaran dalam melaksanakan. Hal ini tidaklah mengherankan, sebab barangsiapa mengetahui hakikat dari pada yang dicarinya, niscaya ringan baginya untuk mengorbankan apa saja untuk memperolehnya. Dan barangsiapa yakin bahwa Allah swt. akan memberikan ganti yang lebih besar dari apa yang telah diberikannya niscaya terasa ringan baginya untuk memberikan kepada orang lain apa saja yang ada.)

APA YANG AKU DAPAT?
QURAN MENJAWAB :
Qs. At-Taubah : 111 "Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang2 mu'min, diri, harta mereka dgn memberikan jannah utk mereka"

(Pada ayat ini diterangkan bahwa Allah swt. membeli diri dan harta benda kaum mukmin dari mereka sendiri yang dibayar-Nya dengan surga Jannatunna'im. Artinya: "Allah membalas segala perjuangan dan pengorbanan yang telah diberikan kaum mukmin itu, baik jiwa raga maupun harta benda, dengan balasan yang sebaik-baiknya, yaitu kenikmatan dan kebahagiaan di surga di akhirat kelak. Ini merupakan ungkapan yang sangat indah dalam menimbulkan kegairahan bagi umat manusia untuk berjihad, karena menggambarkan suatu ikatan jual beli yang sangat menguntungkan manusia, sebab pengorbanan yang telah mereka berikan berupa harta benda dan jiwa raga akan ditukar dengan sesuatu yang sangat berharga, yang tak pernah dilihat oleh mata manusia, dan tak pernah didengar oleh telinga, dan nilainya jauh lebih tinggi daripada harta benda dan apa saja yang telah dikurbankan. Di samping itu jual beli yang terjadi antara Allah dan kaum Muslimin ini tak akan pernah dibatalkan. Tidaklah seperti ikatan jual beli yang terjadi antara sesama manusia yang kadang-kadang dapat dibatalkan. Lagi pula jual beli antar sesama manusia adalah berupa pertukaran antara barang dan uang yang sama nilainya. Sedang balasan yang diberikan Allah kepada hamba-Nya yang beriman jauh lebih tinggi nilainya daripada pengorbanan yang telah diberikan atau perjuangan yang telah dilakukannya.
Balasan yang berlipat ganda yang dianugerahkan Allah kepada hamba-Nya itu adalah semata-mata karena kasih sayang-Nya dan merupakan kehormatan yang diberi kepada hamba-Nya yang beriman, sebab pada hakikatnya diri manusia itu adalah milik-Nya, karena Dialah Penciptanya dan harta benda mereka itu pun adalah milik-Nya, karena Dialah yang menganugerahkan kepada mereka. Namun demikian, bila manusia berjihad dengan mengorbankan harta benda dan jiwa raga mereka yang dianugerahkan-Nya kepada mereka, maka Allah tetap memberikan balasan yang berlipat ganda nilainya padahal Allah sendiri pada hakikatnya tidak memerlukan harta benda dan jiwa raga itu.
Selanjutnya dalam ayat ini Allah swt. menerangkan bagaimana caranya orang-orang mukmin menyerahkan diri dan harta mereka yang dibeli oleh Allah swt. dengan surga Jannatunna'im itu, yaitu dengan berperang pada jalan Allah untuk membela kebenaran dan keadilan yang akan menyampaikan mereka kepada keridaan-Nya; adakalanya mereka dapat menumpas musuh-musuh Allah yang selalu menghambat jalannya dakwah Islam, dan adakalanva mereka gugur dalam peperangan sebagai syuhada dalam membela agama Allah. Namun tak ada perbedaan antara keduanya dalam menerima pahala dan balasan dari Allah swt.
Kemudian Allah swt. menegaskan, bahwa janji-Nya untuk memberikan balasan pahala yang disebutkan itu adalah merupakan janji yang akan ditepati-Nya, dan telah ditetapkan-Nya sedemikian rupa dalam kitab Taurat dan Injil. Dan walaupun janji itu telah dihapuskan dari kedua kitab suci itu oleh kaum Yahudi dan Nasrani namun masih tetap ada dalam Alquran, dan tak akan dapat dihapuskan oleh siapa pun juga, karena Allah telah menjamin keselamatan Alquran itu dari tangan-tangan yang jahil.
Selanjutnya Allah swt. menegaskan, bahwa tidak ada seorang pun yang melebihi Allah dalam hal menepati janji, karena Dia Maha Kuasa untuk menepati janji-Nya, dan tidak pernah lupa atau pun ragu pada hamba-Nya. Oleh sebab itu, Allah menyuruh mereka untuk menampakkan kegembiraan atau keberuntungan yang pasti akan mereka peroleh dari jual beli yang terjadi antara mereka dan Allah swt.
Pada akhir ayat ini Allah swt. kembali memberikan penegasan bahwa keberuntungan yang akan diperoleh mereka itu benar-benar suatu keberuntungan yang amat besar tidak ada yang melebihinya. Sedang keberuntungan yang telah mereka peroleh sebelumnya yang berupa kemenangan terhadap musuh-musuh Islam, serta kepemimpinan, kekuasaan dan kerajaan, hanyalah keberuntungan yang merupakan jalan untuk menegakkan keadilan dan kebenaran.
Jakfar As-Sadiq, seorang yang mempunyai pengetahuan luas tentang Alquran, dalam menafsirkan ayat ini mengatakan: "Badan manusia ini nilai tukarnya adalah surga, oleh sebab itu kita tidak boleh menjualnya kecuali jika mendapatkan surga. Orang yang mati dalam membela agama Allah hanyalah berarti mengorbankan tubuh kasarnya yang bersifat fana, bukan mengorbankan jiwanya yang bersifat kekal. Bila tubuh kasarnya mati, maka rohnya kembali ke hadirat Allah Yang Maha Kuasa.")

KEPADA SIAPA AKU BERHARAP?
QURAN MENJAWAB :
Qs. At-Taubah : 129 "Cukuplah Allah bagiku, tdk ada Tuhan selain dari-Nya. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal.


AKU TAK SANGGUP!
QURAN MENJAWAB :
Qs. Yusuf : 87 "Dan jgnlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yg kafir.

(Allah swt.: Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya kecuali orang-orang yang sesat. (Q.S. Al-Hijr: 56)
Adapun orang-orang mukmin, mereka tidak akan berputus asa karena musibah yang menimpanya, tidak akan goyah imannya karena bahaya yang melandanya. Mereka bersabar dan tabah menghadapi segala kesulitan yang dialaminya. Ia dengan rela penuh ikhlas menerima qada dan qadar dari Allah swt. dengan keyakinan bahwa suatu saat nanti Allah akan menghilangkan semuanya itu sebagaimana firman-Nya: Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman. (Q.S. Al Hajj: 38))
Wassalam. (bisnislami)

Selengkapnya...

Keputusan bisnis diambil berdasarkan kebenaran dari Allah

By Dana Anwari Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu. (QS Al Maidah:48)
Masih tidak yakinkah pebisnis dengan kebenaran mutlak “tiada Tuhan selain Allah”? Mengapa mereka masih mengambil keputusan dengan mengabaikan agama Islam-nya yang sempurna?
Apa motivasi orang beragama? Karena manusia membutuhkan agama untuk minta perlindungan kepada Tuhan atas ketidakpastian kehidupan yang dijalaninya. Mereka yang optimis menjadi pesimis menjalani kehidupan yang kompleks hanya mengandalkan naluri, akal, hati, panca idra dan kekuatan tubuhnya saja.
Melalui agama manusia menjadi mengerti dari mana dia berasal, untuk apa dia hidup, dan untuk apa dia mati. Ilmu pengetahuan dan teknologi tidak mampu menjawab arti dan tujuan hidup manusia. Hanya agama saja (melalui ilmu tentang agama) yang bisa menjawab itu.

Peneguhan tata nilai kehidupan tidak cukup hanya berdasarkan etika hasil budi daya manusia. Tetapi juga diperlukan tata nilai moral berdasarkan agama. Sehingga manusia akan merasa mendapatkan dorongan dan kekuatan dalam melaksanakan nilai-nilai moral yang baik dan menjauhi nilai-nilai yang buruk dalam kehidupannya.
Nilai-nilai agama yang mengandung kebenaran Allah,bersifat mutlak dan abadi. Sementara bila manusia hanya menyandarkan nilai-nilai kehidupannya kepada kemampuan akal pikiran dan naluri kejiwaannya saja, nilai-nilai itu bersifat relatif kebenarannya.
Maka, beruntunglah orang-orang yang telah memeluk agama tauhid: tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa dan Maha Berkuasa. Karena, kebenaran hasil budi daya mereka akan bersandar dan disempurnakan dengan kebenaran Allah yang diimaninya. Beruntunglah manusia itu. Ia akan meraih keberuntungan di dunia dan akhirat dari Sang Pemberi Keberuntungan, yakni Allah yang satu. Aamiin.
Mari kita ikuti ajaran nabi kita, Muhammad Saw. Doa Rasulullah saw yang memuji dan membenarkan hak-hak Allah.
Rasulullah saw. apabila bangun tengah malam untuk menunaikan salat, beliau berdoa: Ya Allah, segala puji bagi-Mu. Engkau adalah cahaya langit dan bumi. Segala puji bagi-Mu. Engkau adalah pemelihara langit dan bumi. Segala puji bagi-Mu. Engkau adalah Tuhan langit dan bumi serta semua yang ada padanya. Engkau adalah yang hak, janji-Mu adalah hak, firman-Mu adalah hak, perjumpaan dengan-Mu adalah hak, surga adalah hak, neraka adalah hak, hari kiamat adalah hak. Ya Allah, kepada-Mu aku berserah diri. Kepada-Mu aku beriman. Kepada-Mu aku bertawakal. Ke pangkuan-Mu aku pulang. Kepada-Mu aku mengadu. Dengan (nama) Mu aku memutuskan. Maka ampunilah aku, ampunilah dosa-dosaku, baik yang telah lewat maupun yang akan datang, yang aku lakukan secara diam-diam maupun yang terang-terangan. Engkau adalah Tuhanku. Tidak ada Tuhan selain Engkau. (409 - Hadis Bukhari & Muslim)
Selengkapnya...

Mengapa tidak berani membuat perjanjian tertulis untuk membayar?

Dalam dunia bisnis ada yang disebut mediator yang tugasnya melakukan bisnis jasa mediasi antara penjual dan pembeli. Mediator juga bertugas mencarikan pekerjaan/proyek untuk dikerjakan oleh pelaksana proyek. Atas jasanya, mediator umumnya mendapatkan professional fee: bisa berupa persentase dari nilai transaksi atau selisih dari harga jual dan harga beli-- besarannya tergantung kesepakatan yang disetujui dan dibuat perjanjian tertulisnya.
Mengapa perjanjian pembayaran profesional fee mesti dibuat tertulis?
Simaklah surat Al Baqarah ayat 282: Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu`amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar.
Islam mengajarkan agar dalam membuat perjanjian seperti hutang piutang sebaiknya dicatat. Hal itu lebih menenangkan dan tidak menimbulkan keraguan para pihak yang terlibat dalam muamalah itu.
Dan, proses transaksi bisnis itu akan menjauhkan dari timbulnya prasangka.
Seorang pemilik tanah yang meminta tolong perantara untuk melakukan mediasi dengan calon pembeli tanahnya, hendaknya membuat perjanjian itu dengan perantaranya. Berapa orang pun perantaranya, perjanjian tetap harus ada dan menyebutkan nama-nama mereka yang terlibat.
Seorang pebisnis yang meminta tolong dicarikan komoditi karena ia memiliki pembeli komoditi itu, harus membuat perjanjian dengan orang yang menolongnya mendapatkan komoditi itu. Janganlah kemudian mengabaikan hak penolong itu dengan tidak memberikannya professional fee.
Profesional fee yang anda berikan kepada yang membantu anda tidak akan membuat anda menjadi miskin dan usaha anda bangkrut. Insya Allah anda bertambah kaya dan usahanya bertambah sukses, karena berbisnis dengan cara yang disukai Allah.
Lalu, mengapa harus menunda membuat perjanjian tertulis dengan mereka yang membantu melancarkan bisnis anda? Apakah anda memang tidak berniat memberikan yang menjadi haknya? Atau anda ingin mengurangi besaran bagian mereka dengan tidak membuatkan perjanjian tertulisnya? Takutlah, Tuhan tidak tidur. Dia selalu mengawasi perilaku bisnis kita. (by Dana Anwari)


Selengkapnya...

Kita mau berdagang atau mau berperang?


By Dana Anwari. Sesungguhnya, berdagang bukanlah berperang, karena berdagang tidak boleh menipu, sedang peperangan adalah tipu-muslihat. Kita harus tahu kapan saat berdagang dan kapan saatnya berperang? Bila bersikap setengah-setengah, kita akan frustasi atau bahkan mati
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. (QS An Nisa 4:29)
Hadis riwayat Ibnu Umar ra.: Seorang lelaki melaporkan kepada Rasulullah saw. bahwa ia tertipu dalam jual beli. Maka Rasulullah saw. bersabda: Katakanlah kepada orang yang kamu ajak berjual-beli: Tidak boleh menipu! Sejak itu jika ia bertransaksi jual beli, ia berkata: Tidak boleh menipu! (870 - Bukhari & Muslim)
Hadis riwayat Jabir ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Perang itu adalah tipu daya (tipu-muslihat). (1008 - Bukhari & Muslim)

O you who believe! Eat not up your property among yourselves unjustly except it be a trade amongst you, by mutual consent. And do not kill yourselves (nor kill one another). Surely, Allâh is Most Merciful to you. (QS An Nisa 4:29)
Ibn 'Umar, may Allah be pleased with them, said: A man mentioned to the Messenger of Allah (may peace be upon him) that he is often deceived in business transactions, whereupon Allah's Messenger (may peace be upon him) said: When you enter into a transaction, say: There should be no attempt to deceive. So whenever he entered into a transaction, he used to say: There should be no attempt to deceive. (870 - Bukhari & Muslim)
Jabir, may Allah be pleased with him, reported: The Messenger of Allah (may peace be upon him) said: War is a stratagem. (1008 - Bukhari & Muslim)
bisnislami.blogspot.com
*
Selengkapnya...

Sedekah terbaik adalah melayani di jalan Allah

By Dana Anwari. Jika Allah menyuruh kita menafkahkan harta kita di jalan Allah, itu bukannya karena Allah membutuhkan kita. Kita berbuat itu karena kita lah yang membutuhkan Allah agar kita selalu diberikannya kesempatan memiliki harta dan selalu diberikan kemampuan menafkahkan sebagian rezeki-Nya untuk melayani orang lain.

Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada orang yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang membutuhkan (Nya); dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu (ini). (QS Muhammad:38)
Semoga kita dimampukan Allah untuk memiliki keteguhan jiwa agar senantiasa terus bersedekah, dengan harta dan diri kita, semata-mata karena hendak meraih rida Allah. Sebagaimana firman-Nya dalam Al Quran ayat 265:

Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.
bisnislami.blogspot.com
Selengkapnya...

Mengapa kita mesti kaya dan harus mau bekerja untuk menjadi kaya?

By Dana Anwari. Sudah kita dengar pendapat pemikir Islam dan praktisi bisnis Islam yang menyatakan seorang muslim harus menjadi kaya. Mengapa harus kaya? Dan salahkah bila menjadi miskin?
Menjadi miskin tentu tidaklah salah. Tetapi seorang muslim yang memilih bergelimang dalam kemiskinan karena malas bekerja untuk menjadi kaya adalah suatu kesalahan.
Apa kekayaan harus dikejar? Jawabannya bisa "ya" dan bisa "tidak". Bila jawabannya adalah "iya", argumentasinya adalah bahwa dengan kekayaan itu kita bisa menafkahi diri kita dan pihak lain yang diperintahkan Allah untuk turut kita nafkahi.
Bacalah firman-Nya dalam Al Quran surat Al Baqarah ayat 215: Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan." Dan apa saja kebajikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.
Bila jawabannya harta "tidak" harus dikejar, argumentasinya adalah bagi setiap muslim yang penting adalah selalu berkarya dan tidak malas bekerja. Hasil kerja keras yang diimbangi dengan kerja cerdas akan membuahkan karya yang akan menghasilkan "kekayaan" bagi yang bekerja.
Lalu mungkin kita sekarang bertanya: apa sih yang disebut kekayaan?
Kekayaan adalah harta (bahkan juga ilmu) yang kita miliki yang sangat bermanfaat bagi hidup kita dan ada lebihnya untuk kita sedekahkan kepada orang lain. Dan ingatlah, sedekah yang paling utama adalah sedekah dari harta yang cukup.
Simaklah dari Imam Bukhari dan Imam Muslim (562): Hadis riwayat Hakim bin Hizam ra.: Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Sedekah yang paling utama atau sedekah yang paling baik adalah sedekah dari harta yang cukup. Tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah. Mulailah dari orang yang engkau tanggung (nafkahnya).

Hakim bin Hizam, may Allah be pleased with him, reported: Allah's Messenger (may peace be upon him) said this: The most excellent charity or the best of charity is that after which the (giver) remains rich and the upper hand is better than the lower hand, and begin your spending with the members of your household.
bisnislami.blogspot.com
***


Selengkapnya...

Investasi terbaik adalah memperhitungkan keuntungan di dunia dan keuntungan di akhirat

By Dana Anwari. Mari kita jadikan diri kita masuk ke dalam golongan yang sukses berinvestasi. Lakukanlah investasi terbaik kita. Pahamilah prinsipnya, bahwa investasi terbaik adalah memperhitungkan keuntungan di dunia dan keuntungan di akhirat.

Siapa menolak menjadi orang yang banyak harta? Tapi manfaatkanlah harta itu sesuai dengan manfaatnya. Belanjakanlah harta itu untuk kebaikan diri kita sendiri dan kebaikan orang lain. Bagaimana caranya? Belanjakanlah harta milik kita itu di jalan Allah.

"Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." Begitu Tuhan kita Yang Maha Pemandu, Ya Allah ya Hadii, memandu kita lewat firman-Nya di Al Quran surat Al Baqarah:195.

Membelanjakan harta di jalan Allah adalah mendayagunakan harta itu hingga mampu meraih keuntungan bagi kita di dunia ini sekaligus di akhirat.

Ketika kita investasikan harta kita di suatu bidang usaha yang halal, lalu mampu memperkerjakan tenaga kerja, lalu memberi manfaat kepada customer bisnis kita, maka investasi itu telah memberikan keuntungan dunia dan akhirat bagi kita.
Ketika kita belanjakan harta kita untuk membeli makanan atau minuman yang dihalalkan Tuhan, maka kita memperoleh keuntungan kesehatan dan memperoleh keuntungan di akhirat karena mau berbagi kekayaan kita dengan pedagang yang menjual atau pekerja yang memproduksi produk itu serta petani yang menghasilkan bahan baku produknya.

Ketika kita berbagi kekayaan kita, dan kekayaan itu kemudian memberikan manfaat bagi kebaikan hidup seseorang di jalan Tuhannya, maka insya Allah kita telah meraih keuntungan di akhirat.
Bagaimana bila kekayaan kita dimanfaatkan untuk perbuatan yang diharamkan Allah: berjudi, berzina, barang yang memabukkan dan makanan yang haram? Investasi itu mungkin tampaknya menguntungkan bagi kehidupan Anda di dunia karena Anda merasa disenangkan oleh hal-hal yang haram itu. Tetapi, sesungguhnya Anda sedang memilih untuk menjauhi keuntungan di akhirat. Apa yang Anda tidak akan memberikan Anda keuntungan di dunia dan akhirat, tetapi justru memberikan azab di dunia dan azab di akhirat. Tunggu saja, karena Allah menjanjikan begitu.

Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi. (QS Al Araf:99)

Mari kita jadikan diri kita masuk ke dalam golongan yang sukses berinvestasi. Lakukanlah investasi terbaik kita. Pahamilah prinsipnya, bahwa investasi terbaik adalah memperhitungkan keuntungan di dunia dan keuntungan di akhirat.
bisnislami.blogspot.com
***

Selengkapnya...

Sukses saja tidak cukup tanpa keberuntungan

By Dana Anwari. Bukan sekadar kesuksesan yang ingin kita raih di dunia ini, tapi juga keberuntungan. Menjadi pebisnis yang sukses saja tidak cukup tanpa dilengkapi keinginan menjadi pebisnis yang beruntung.
Maukah kita sukses dalam berbisnis tetapi hidup kita tidak beruntung?
Bahagiakah kita bila sukses kaya harta tapi kesuksesan itu tidak menjadikan kita orang yang beruntung?
Senangkah kita karena sukses mendapatkan banyak proyek tapi pekerjaan itu tidak menguntungkan?

Orang yang ingin sukses sekaligus beruntung adalah orang yang paham bahwa dirinya harus berlaku adil dalam berbisnis. Ia tidak melulu memikirkan caranya meminta bagian yang menjadi haknya, tapi ia juga memikirkan caranya memberi kepada mitranya dengan adil.
Ia tidak mau merugikan mitranya sebagaimana dirinya pun tak mau dirugikan mitranya. Ia sangat menghargai hak milik orang lain maka ia berlaku adil, dan ia pun menghendaki hak milik dirinya juga dihargai orang lain. Sikap adilnya membuat ia bersama-sama yang ia ajak berlaku adil untuk tidak hidup merusak kehidupan yang mereka miliki bersama.

Ketika seseorang sukses berlaku adil, mungkin dengan mengurangi rencana keuntungannya yang berlebihan karena rencana itu sebenarnya tidak adil, sesungguhnya ia telah menyimpan keberuntungannya yang lain di langit. Karena telah berlaku adil dengan tidak memaksakan kehendaknya untuk untung dengan merugikan pihak lain, maka ia memperoleh keuntungan yang lain dari Allah, Tuhannya.

Simaklah firman-Nya dalam Al Quran surat Huud:85-86: Dan Syuaib berkata: “Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan.
Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu jika kamu orang-orang yang beriman. Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu.”


"And O my people! Give full measure and weight in justice and reduce not the things that are due to the people, and do not commit mischief in the land, causing corruption.
That which is left by Allâh for you (after giving the rights of the people) is better for you, if you are believers. And I am not a guardian over you."


Sadarkah kita, kadang keuntungan yang diberikan Allah itu adalah berupa keselamatan kita dari suatu peristiwa kecelakaan. Bila kita batal bepergian lalu kendaraan yang rencananya membawa kita pergi ke suatu tempat tertimpa bencana, siapakah yang memberikan kita keberuntungan? Tentu saja Allah swt karena Dia-lah Yang Maha Mengatur.

Allah menyukai hamba-Nya yang berlaku adil, karena berlaku adil lebih mendekatkan kita kepada takwa. Bila Allah telah menyukai kita, insya Allah kita akan dianugerahi-Nya keberuntungan di dunia dan akhirat. Amin.
bisnislami.blogspot.com
***


Selengkapnya...

Bila ingin menjadi pebisnis yang beruntung, berbisnislah dengan penuh tanggungjawab kepada Allah

By Dana Anwari. Mulailah bersikap sebagai pebisnis bila ingin menjadi pebisnis. Pebisnis itu pemimpin yang terpimpin oleh petunjuk-Nya. Petunjuk Allah itu adalah keinginan untuk mau saling berbagi kekayaan dengan cara suka sama suka, menyenangkan dan menguntungkan semua pihak yang terlibat serta diberkati Allah.

Pebisnis yang baik sebagaimana dikehendaki Allah adalah pebisnis yang mau bertanggungjawab atas kepemimpinannya. Bila ia melakukan kesalahan, maka ia harus sanggup bertanggungjawab memperbaiki kesalahannya. Dan tanggungjawabnya yang terbesar adalah tanggungjawab kepada "tiada Tuhan selain Allah", yakni tanggungjawab melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. (QS An Nisa 4:29)

Nabi Muhammad saw. bersabda: "Penjual dan pembeli memiliki hak pilih selama belum berpisah. Apabila mereka jujur dan mau menerangkan (keadaan barang), mereka akan mendapat berkah dalam jual beli mereka. Dan jika mereka bohong dan menutupi (cacat barang), akan dihapuskan keberkahan jual beli mereka." (869 - HR Bukhari & Muslim)

Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga Adn. Itulah keberuntungan yang besar. (QS Ash Shaff 61:10-12)


Sesungguhnya Kami telah menurunkan ayat-ayat yang menjelaskan. Dan Allah memimpin siapa yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus. (QS An Nur 24:46) Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. (QS Al Araaf 7:3)

O you who believe! Eat not up your property among yourselves unjustly except it be a trade amongst you, by mutual consent. (QS 4:29)

Hakim bin Hizam, may Allah be pleased with him, reported: Allah's Messenger (may peace be upon him) said: Both parties in a business transaction have the right to annul it so long as they have not separated; and if they speak the truth and make everything clear they will be blessed in their transaction; but if they tell a lie and conceal anything the blessing of their transaction will be wiped out. (869 - Bukhari & Muslim)

You who believe! shall I guide you to a commerce that will save you from a painful torment. That you believe in Allâh and his Messenger (Muhammad Sal-Allaahu ‘alayhe Wa Sallam), and that you strive hard and fight in the cause of Allâh with your wealth and your lives, that will be better for you, if you but know! (if you do so) He will forgive you your sins, and admit you into gardens under which rivers flow, and pleasant dwelling in Gardens of ‘Adn ­ Eternity [‘Adn (Edn) Paradise], that is indeed the great success. (QS 61:10-12)

We have indeed sent down (in This Qur’ân) manifest Ayât (proofs, evidences, verses, lessons, signs, revelations, lawful and unlawful things, and the set boundries of Islâmic religion, etc. that make things clear showing the right path of Allâh). and Allâh guides whom He wills to a straight path (i.e. to Allâh’s Religion of Islâmic Monotheism). (QS 24:46)
[Say (O Muhammad ) to these idolaters (pagan Arabs) of your folk:] follow what has been sent down unto you from Your Lord (the Qur’ân and Prophet Muhammad’s Sunnah), and follow not any Auliyâ’ (protectors and helpers, etc. who order you to associate partners in worship with Allâh), besides Him (Allâh). (QS 7:3)
bisnislami.blogspot.com
***


Selengkapnya...